Ini kutulis minggu pagi sayang. Jika hari biasanya aku tentu tak bisa bangun siang. Karena pagi sudah mulai beraktifitas. Aktifitasku yang tak penting. Kau tentu lebih suka aku bangun pagi kan? Biar olahraga dan sehat. Kata orang, bangun pagi rezekinya gampang. Amin. Tapi hal itu tidak kuterapkan ketika minggu datang. Biasanya aku akan menghabiskan malam hingga subuh kemudian bangun ketika dzuhur berkumandang. Itu kuanggap sebagai sebuah hadiah untuk jiwaku yang lain. Jiwa yang tak pernah menikmati pagi. Hanya dalam mimpi. Namun, rencana itu gagal. Semalam sehabis isya' aku ada teman baru dari Gorontalo. Kapan-kapan kita kesana sayang. Berkunjung kerumah teman baruku ini dan tentunya travelling. Meskipun kau tak begitu suka travelling. Temanku tadi selepas Isya' mengajak berputar-putar di kota baru ini. Melihat malam. Malam minggu tepatnya. Tepat jam 11 malam aku sudah kehabisan tenaga menuruti semangatnya. Sampai kos langsung tidur dan akhirnya gagal. Aku gagal bangun siang ...
Senja ini kututup dengan sebuah kebohongan. Tidak mudah memang, terlalu berat malah. Bagi sebagian orang berbohong mungkin hal yang teramat mudah. Tapi tidak untuk diriku, ini begitu menyakitkan. Berbohong kepada seseorang yang terlampau baik adalah sebuah pengkhianatan agung. Itu seperti bunga meludahi pemiliknya ketika setiap pagi dan sore menyingsing menyiraminya dengan penuh kasih sayang. Ya, aku berbohong kepada bunga, seorang perempuan. Alah tai, aku terlalu mengobral melankoli. Cadas seorang teman. Baginya, berbohong adalah sama halnya dengan keputusan akan mengambil gorengan atau tidak ketika makan di angkringan. Jawabannya mudah sekali, mana mungkin makan nasi angkringan tanpa seekor gorengan. Nasi angkringan tanpa gorengan bak cinta klasik Romeo Juliet. Takkan terpisah. Sudah berjuta kali ia berbohong, begitu ceritanya. Ketika kamu jarang berbohong, dan kamu melakukannya akan memang terasa berat. Tapi perlahan berbohong adalah sebuah tedeng untuk membuat h...
Barangkali ada, satu dua hal atau mungkin banyak, dimana tuhan pun malas untuk memperjuangkannya apalagi mengabulkannya. Diantaranya adalah ketika ada dua manusia yang tak mungkin ditakdirkan bersama. Kamu tahu itu siapa. Itu kamu dan aku. Kamu dengan segala hal yang menjelma keindahan dan aku dengan apapun macamnya yang terkesan remeh dan tak jelas. Karena itu, kita yang mungkin berjalan dan menghabiskan waktu bersama menghabiskan sisa-sisa umur kita. Kita berdua mengerti betul tentang itu. Tapi apa yang sebenarnya kita takutkan. Aku yang cenderung memaksa tuhan untuk menyatukan kita dan kamu dengan segala prilaku realistismu, bahwa kita tak mungkin bersatu, merupakan dua hal yang berbeda dengan ketakutan. Entah di antara kita siapa yang paling takut.
Komentar