Postingan

Sejarah dan Masa Kini

“ Sejarah membuat manusia lebih berbudaya dan bijaksana. Dan bukan sebaliknya untuk memupuk prasangka dan kecurigaan, atau memproduksi dendam dan sikap negatif bagi generasi selanjutnya. Dengan memandangnya sebagai humaniora, maka “proses sejarah” merupakan sesuatu yang membawa keberkahan bagi diri kita.” (K. H Abdurrahman Wahid/ Gus Dur) Lantas, apa itu sejarah? Beragam definisi diberikan oleh para sejarawan. Salah satunya adalah memandang sejarah sebagai kajian mengenai kejadian-kejadian yang telah lewat atau telah lalu dari waktu sekarang yang sifatnya infintive, tidak terbatas. Meminjam istilah Sejarawan Kuntowijoyo, Tujuan sejarah adalah mempelajari hal-hal yang unik, tunggal, dan ideografis. Karena sejarah itu diakronis, memanjang dalam waktu dan mementingkan proses. Sejarah bukanlah sekedar suatu peristiwa yang telah terjadi, melainkan cerita tentang apa yang sebenarnya telah terjadi. Karena kajian sejarah adalah sebuah intepretasi-intepretasi atas kej...

Memandang Etnis Tionghoa

Bagiamana kita memandang Tionghoa setelah desain baru rupiah dan foto hoax tentang jutaan orang China ke Indonesia? Ada kekhawatiran yang jelas terpancak pada orang-orang yang getol membagikan foto-foto yang selalu menimbulkan hasrat bahwa kita harus berhati-hati dengan orang Tionghoa. Apalagi disangkutpautkan dengan Ahok yang didukung oleh Sembilan Naga menjadi mudah saja untuk dibagikan melalu media sosial. Pandangan awam sepakat bahwa orang Tionghoa ini cukup perhitungan, jika tidak ingin mengatakan pelit. Dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang kaya yang menguasai perekonomian bangsa kita. Namun pendapat ini tidak bisa dianggap kalau seluruh etnis ini memiliki kuasa dalam bidang ekonomi. Mungkin pribumi saja yang terlalu malas untuk berdagang dengan gigih seperti orang Tionghoa praktekkan langsung di area Pecinan pusat perdagangan yang digerakkan etnis ini. Tetapi, apa sebenarnya yang menjadi akar sentimen rasial kita terhadap etnis Tionghoa di ...

Catatan Kepulangan #1

“Satu hal pasti yang tak perlu dirisaukan adalah datangnya kematian” Ahura Mazda.    Saat itu memasuki usia tua perkuliahan. Interval semesetre akhir menuju skripsi. Saya sengaja mengambil mata kuliah hiburan, agar semata ketika bimbingan skripsi tidak sekedar bertemu dosen pembimbing, tapi masih bertemu taman-teman kuliah. Siapa yang nyana, mata kuliah sosiologi. Salah satu mata kuliah yang menurut saya menarik tapi juga membosankan. Saat itu selepas dzuhur, kurang lebih jam 1. Dalam kelas gawai saya berdering. Saya tengok, itu nomor bapak. Jarang sekali bapak saya telpon. Karena yang sering telpon menggunakan nomor ibuk, kemudian di sela-sela obrolan gawai ibuk akan diberikan bapak. Begitu biasanya. Tapi kali itu bapak sendiri yang telpon. Saya sudah berfikir macam-macam. Saya undur diri terima telpon itu.   Benar, bapak lupa mengucap salam. Belio sesunggukan. Beberapa saat di awal yang terdengar adalah tangisan belio. Itu adalah kali kedua saya ...

Surat Untukmu; Dari Aku Yang Tak Pandai Berbicara Di Depanmu

Hai kamu, Ketika seharian sudah menghabiskan waktu bersamamu, banyak sekali yang hendak aku tulis. Tentang hal-hal yang urung terucap, perasaan yang lamat-lamat semakin aneh dimengerti, dan perhatian serta kehangatanmu yang menjadi-jadi. Lalu tiba-tiba semua diksi yang sudah aku rangkai sepanjang jalan setelah mengantarmu pulang hingga kos itu bubar. Ya, ia bubar begitu saja, berantakan dan carut marut. Hal itu dikarenakan bahwa tulisan ini hendak ditujukan pada namamu. Lantas aku bersangka pada diri sendiri bahwa tulisan ini tidak mungkin akan kamu baca. Setidaknya hal itu berhasil membuatku berkonsentrasi hingga menyelesaikan tulisan ini. Kadang aku memang terlampau lemah, konyol dan bodoh. Aku memang mendadak menjadi bodoh, lemah dan konyol ketika berhadapan denganmu. Ketika kamu sepakat untuk menghabiskan waktu berdua denganku, tiba-tiba otakku mengecil, daya kreatifitasku menurun drastis. Sehingga ketika kamu bertanya “ kita mau pergi kemana?” hanya gel...

Merayakan dengan Sinisme

Ucapan selamat, tak ubahnya hanyalah basa-basi. Basa-basi mungkin bisa diartikan beramah-tamah, saling menganggap keberadaan sesama sebagai manusia dengan segala kelemahannya. Namun bagi saya pribadi, basa-basi itu lebih jelas terdengar "basi" nya. Basi benar nasi ini, begitu tepatnya. Atau basi betul topik yang dibahas. Nah, ucapan selamat hari lahir di dinding media sosial lebih terasa hanya basa-basi. Dan sangat basi, karena bla..bla..bla... Secara kebetulan, mungkin ketika dulu saya membuat akun facebook sedang tidak sadar atau mungkin dalam penguasaan minuman keras, masyallah! Kenapa es teh masih dijual saja. Kenapa tidak ditarik seperti nasib alkohol yang dijual mini market kota Jogja. Bukankah es teh kategori minuman keras, keras untuk diklethak (gigit, red). Dengan kesadaran jauh dari Tuhan ketika membuat akun facebook, saya menuliskan hari lahir adalah 15 mei. Saya benar-benar khilaf dan ini adalah hoax. Kebohongan terbesar yang pernah kulakukan, karena saya ...

Mengantarmu dari Luar

"if I hold on to you, it hurts. if I let you go, it hurts even more. ah, I fall in love too easy" Jogja diguyur hujan lebat siang itu, sore nanti aku kepalang janji mengantar seorang perempuan untuk pulang. Ya, Lempuyangan adalah ibu tiri yang siap mengantar dan menjemput anak dari mana saja, siapa saja tanpa perlu banyak bawel dan omelan, rasanya seperti ketika kita bangun siang dan tak ada yang mengingatkan. Begitulah Lempuyangan, segala peradaban rindu dan perasaan menjadi aroma saban hari bagi para paria melankolis yang dilahirkan oleh suasana Yogyakarta. Keretanya berangkat pukul 5, sedangkan aku sudah menyanggupi untuk menemaninya sedari jam 2. ini bukan tentang cinta yang membutuhkan pengorbanan waktu dan mengurangi jatah tidur siang. Tapi ini adalah menyoal janji, kesepakatan dan kepastian. Sudah berapa janji yang sudah kita siasati untuk diingkari? Beberapa kesepakatanpun kadang kita berusaha berkelit sekuat tenaga untuk menggagalka...

Mei Yang (tidak) Baik-Baik Saja

Menyikapi hari pertama di bulan mei, apakah layak untuk dirayakan atau harus direnungi dengan sebuah perlawanan. Setidaknya, kita sadar kehidupan ini mengajarkan bahwa kita harus saling tindas menindas dalam kehidupan. Maka lahirlah buruh, budak dan sebagainya. Sejarah kita pun jauh-jauh sebelumnya kental benar dengan perbudakan. Tapi tentu saja ini bukan tulisan serius yang akan membahas sejarah perbudakan atau perjuangan kaum buruh. Ini lebih penting dari semua itu, yaitu kesedihan. 1 Mei tak ubahnya adalah awal dari kesialan-kesialan yang terakumulasikan dalam kehidupan-kehidupan yang sudah kulalui. Ini tanggal merah dan long weekend . Niat hati bangun tidur sepagi mungkin, jama'ah subuh, kemudian jogging, sarapan dengan gebetan. Namun rencana tinggallah rencana, seperti biasa, subuh dan dhuha sulit kali dibedakan, jogging hanyalah sebuah lelucon di tengah semakin besarnya lingkar perut yang tak terbendung, sedangkan sarapan dengan gebetan? sebentar, gebetan ...