Postingan

Semacam Ode Untukmu Pik

Gambar
Mungkin ini menjadi kado teraneh yang kau dapatkan ditengah-tengah hiruk-pikuk euforia pesta pernikahanmu. Dimana kau sedang menelanjangi satu-persatu bungkusan kado rapat yang membuatmu beringas dan penasaran apa isinya. Dalam tiap kado kau akan bertanya-tanya isinya apa, ucapan-ucapan aneh apa yang akan kau dapat dari karibmu, atau justru malah ucapan-ucapan yang gampang ditebak dan diterka. Tak lain hanya ucapan selamat dan doa untuk pernikahanmu. Tapi apa yang lebih penting dari sebuah do'a. Do'a adalah segalanya untuk menghadapi kehidupan yang amat remeh dan kadang melelahkan ini. Namun jangan khawatir, izinkan aku mengoceh beberapa hal dulu dan akan kututup dengan sebuah do'a yang tak panjang mungkin. Tulus lebih penting.

Kehidupan Yang Biasa Saja

 Ia adalah seorang mahasiswa yang aktif di berbagai organisasi sampai-sampai menjadi tulang punggung organisasi yang ia ikuti. Cerdas, berdedikasi tinggi serta kreatif dalam berkegiatan menjadikan ia sebagai mahasiswa yang lengkap. Disebut mahasiswa yang lengkap karena meskipun seorang aktifis pergerakan, IPK selalu mencapai titel cumlaude. Maka dari itu juga dalam menyelesaikan tugas akhir, menjadi sarjana tidaklah begitu mengalami kesulitan berarti. Meskipun ia mencaci mahasiswa yang lulus cepat kemudian menjadi sarjana prematur yang tidak mengerti apa-apa, ia sendiri akhirnya termakan oleh caciannnya sendiri. Benar saja, ia lulus cepat dan masalahnya adalah ingin melanjutkan s2 tetapi proposal pengajuan beasiswa selalu ditolak. Orang tuapun tidak begitu mendukung terutama finansial, karena sekarang kuliah s2 bukanlah barang murah. Sebenarnya ia merasa kuliah bukan ajang menambah embel panjang nama, bukan juga menambah kecerdasan. Kuliah hanya dijadikan...

Mencecap Asa

Waktumu akan segera usai, harapan. Kenyataan akan menganga, menertawakan dan mencecap bokongmu. Mulanya kau begitu manis. Menyemangatiku setiap pagi dan memelukku ketika malam datang, dengan hangat. Kau sulurkan energi dari kecipak kaki hingga mengisi kepalaku. Dan seketika itu, kau seperti hujan. Hatiku banjir, hujanmu begitu deras, sederas impian. Kau berenang bebas di kolam anganku. Seperti ikan koi yang manis peliharaan aquarium kamarku. Berenang kesana-kemari. Kau kubiarkan begitu lama, hingga kau tumbuh membesar. Sesampai pun aku tak sadar, telah terbuai olehmu, harapan. Sekarang aku sudah sadar. Kau mengerang kembali padaku. Ingin menjadi kekasihku seperti dulu. Tapi aku bukan lagi bocah. Yang hanya dengan Impian bisa tertawa berlarian memainkan kelereng. Kini malam akan menjemputmu, dan harapan hanya menjadi sebuah kenangan yang sesekali perlu dirawat.

Semacam Catatan (tanya) Tuhan

Sebenarnya aku sedikit khawatir, mungkin lebih tepatnya takut. Mempertanyakan agama tanpa faham bekal pemahaman yang benar. Pertanyaannya sekarang yang menceruat, adalah“pemahaman agama yang benar” itu seperti apa dan bagaimana?. Melalui beberapa kesempatan melalui socmed twitter dari seorang teman berkata , pemahaman yang benar (dalam kasus Islam) adalah mutlak apa yang terdapat di Al-Qur'an dan Hadits, selain itu tidak ada kebenaran pasti. Lalu ku jawab, relevansinya untuk saat ini bagaimana? Seperti hukum cambuk, beristri empat? Apakah relevan dengan zaman ini?. Ia dengan yakin menjawab, “apa yang ada di Al-Qur'an dan Hadits adalah benar, tak perlu aku menjelaskan”. Apa memang seperti itu? Menerima kemutlakan isi kitab suci sekali gus tanpa mempertanyakan akan sesuatunya. Kemudian aku menjawab balasannya tersebut dengan mengatakan bahwa kebenaran Al-Qur'an dan Hadits adalah mati, tidak ada. Dan sesaat kemudian mention terakhir dari kawanku itu adalah “#calonJIL”. Sesin...

Kecurigaan yang Seharusnya

Sepertinya aku memang banyak bicara. Banyak sekali, kadang-kadang sampai berbusa-busa ketika membahas sesuatu yang sangat menarik, mungkin. Tetapi sepertinya begitu. Setelah aku bertemu dengan Plato, tentu saja bertemu pemikirannya bukan orangnya membuat aku menjadi sedikit pendiam. Setidaknya berkuranglah sedikit intensitas keahlian banyak bicara ini. Plato pernah bertutur demikian “salah satu macam manusia yang patut dan perlu dicurigai adalah orang yang mahir serta pandai bermain dengan kata-kata”begitu tuturnya. Jadi, apakah kita  harus dan mengapa mencurigai seseorang yang banyak bicara, katakanlah membual. Sebut saja seorang politisi, kita memang dan patut untuk mencurigai setiap derik serta langkahnya. Meskipun dalam ajaran agama kita tidak diperbolehkan berprasangka buruk “su'udzon” tetapi bolehkan untuk sekedar waspada dan mengawasi. Dalam setiap kata,

Pernikahan yang Mungkin Menakutkan

Ada beberapa keberanian di dunia ini yang saya masih tangguhkan, apa itu keberanian atau kenekatan?. Mungkin beberapa orang mengira bahwa kedua kata tersebut adalah sama, tapi bagiku dua hal tersebut sangatlah beda dalam prinsipnya. Keberanian adalah ketika tahu yang kita perjuangkan adalah hal suci, tapi kenekatan bagiku hanya taklid buta yang diperjuangkan karena tak menimbang ketotololan dalam keyakinan. Dan menikah bagiku adalah kenekatan yang mungkin bagi kalian adalah keberanian atas nama cinta. Yang bahkan aku masih tak mengerti apa itu cinta bagi kalian. Apakah cinta adalah menyatukan dua manusia tanpa tendensi apa apa?, di sinilah kemunafikan mulai aku baca. Pernikahan pernah ada dan sekarang benar benar ada, bagi orang-orang yang pernah melihat dan masih melihat adanya sesuatu yang suci di dalam pernikahan, sebuah benda keramat yang wajib ada di hadapan tuhan dengan (t) kecil. Bagi mereka pernikahan itu ada, tetapi bagi kita pernikahan hanya kemunafikan dan ke...

Keberanian Menjadi Kita?

Perempuan itu menurutku sangatlah cantik. Kulitnya memang putih, kuning langsat seperti di iklan kosmetik. Memang sih ia bukanlah orang Jawa, tetapi Sunda. Sunda, setahuku memang gadis-gadis Sunda terkenal putih dan kulitnya bersih-bersih. “G eulish pisan euy” begitu akrab kudengar ketika perempuan sunda itu sedang mampir sekedar membeli gorengan di warung burjo (bubur kacang ijo). Dari kelihatannya, mereka yang menggoda adalah orang non-Sunda yaitu lelaki-lelaki Jogja yang sedang nongkrong mrongos depan burjo. Iya, burjo memang identik tempat makan murah yang ada di Jogja dan sering menjadi sasaran mahasiswa-mahasiswa kelaparan. Terlebih burjo identik dengan buka 24 Jam, penjualnya orang Sunda dan menu andalannya adalah nastel (nasi telur) dan mirebus intel-tante (indomie telur atau tanpa telur). Entah apa alasannya, setelah kupikir-pikir banyak sekali orang Sunda melakukan ekspansi ke tanah Jogja ini. Terutama urusan perut, orang sunda menjadikan semakin berjejalnya menu-menu ...